Subuh Sublim di tempat Savana Tenau Pulau Sumba

Estimated read time 4 min read

Jakarta – Bergegas bangun tidur jam empat subuh, kami sama-sama rombongan dari Jakarta, berangkat ke savana Bukit Tenau dari Hotel Kambaniru di area Waingapu, ibu kota Daerah Sumba Timur. Hawa pagi serasa sejuk, walaupun tidaklah sedingin Puncak Bogor atau Kaliurang Yogyakarta, atau Batu Jawa Timur. 

Sesekali, dari kejauhan, terdengar ayam jantan milik penduduk setempat berkokok. Ringkik kuda Sumba dari kandang di tempat pinggir tembok pagar penginapan, mengiringi keberangkatan kami menyongsong fajar.

“Mumpung di dalam Sumba, walaupun mengantuk serta lelah, kami ingin eksplorasi segala yang mana ada di area sini,” kata Heru Margianto, warga Bekasi, anggota rombongan kami.

Ia adalah satu dari setidaknya 20 orang yang pagi itu ingin menikmati Bukit Tenau sebagai bagian dari rencana pelesir Huawei Dunia Pers Camp 2023 dalam Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Acara ini berlangsung Jumat-Senin, 8-11 Desember 2023 lalu.

Kami melaju dengan mobil, menuju savana Bukit Tenau yang digunakan berjarak sekitar 15 kilometer dari Waingapu. Persisnya, bukit ini berada di area Kelurahan Mauliru, Kecamatan Kambera, Sumba Timur. 

Tersiar kabar, serta dari gambar-gambar yang mana berserak di tempat internet perihal cantiknya bukit ini. Itulah yang terus merajuk kepala kami untuk mampu bergabung bergulat dengan keindahan serta pesonanya. 

Cerita Hilarius Ferry Jahang, warga Kupang, yang mana juga mengambil bagian rombongan kami bahwa produsen mobil mahal dengan syarat Italia, Ferrari, pernah bikin iklan di dalam Tenau, menambah semangat untuk pergi ke sana. “Itu ongkos produksinya pasti mahal, kemudian hasilnya bagus banget mas,” kata dia.

Sumba adalah satu dari sekian pulau dalam Kepulauan Sunda Kecil, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Posisinya ada pada selatan Pulau Flores yang digunakan dipisahkan oleh Selat Sumba. Sedangkan pada arah timur, ada Pulau Timor, tempat ibu kota provinsi, Kupang, kemudian negara tetangga Timor Leste.

Sumba mempunyai luas 11.153 kilometer persegi serta punya pegunungan setinggi 1.220 meter. Curah hujan tahunan sekitar 1.625 milimeter, sangat rendah yang mengakibatkan Sumba sedikit punya hutan hijau berpohon tinggi, kemudian lebih besar berbagai berbagai padang rumput. 

Dibanding dengan tiga kabupaten lain di tempat Sumba: Sumba Tengah, Sumba Barat, kemudian Sumba Barat Daya, Sumba Timur punya savana paling luas serta musim yang dimaksud lebih lanjut kering.

Setelah 1,5 jam melintasi jalan yang tersebut tak begitu lebar, lalu berkelak-kelok pada sana-sini, Bukit Tenau pun terjangkau. Meski sempat tersesat jalan sejenak, itu tak menurunkan kegembiraan menjangkau kawasan di dalam tenggara Waingapu itu.

Eksotisme padang rumput

Pagi itu masih temaram. Cahaya matahari semburat tipis manja. Dalam hati, sebagian dari kami bergumam, mengkonfirmasi kabar keelokan stepa ini. Tak sedikit yang dimaksud mengekspresikannya lewat ucapan. “Wihh, indah banget,” kata mereka.

Mobil kami parkir di tempat pundak bukit yang mana membentuk dataran cembung yang tidak ada curam. Dari tempat ini, keindahan sudah pernah menyergap. Orang-orang DKI Jakarta lalu sekitarnya pada rombongan kami, menyebar ke sudut-sudut terbaik untuk mengambil foto. 

Suasana subuh di tempat sabana Bukit Tenau, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Akhir Pekan 10 Desember 2023. Tempo/Sunudyantoro

Dari Bukit Tenau, kami memandang savana luas, mirip pada film-film berlatar belakang Texas Amerika Serikat, atau Gurun Gobi Mongolia, atau padang gembalaan di dalam Selandia Baru. Sepanjang mata memandang ke arah timur, selatan, serta utara terhampar lapangan rumput berkontur sedikit turun-naik. 

Jika tatapan mata terbuang ke arah barat daya, ada bukit menyatu dengan bukit, yang dalam tengahnya bercelah lembah. Di ujung sana, suasana permukiman Waingapu. Sebagian di dalam antaranya rumah berarsitektur tradisional dengan atap limas, tampak menghias sepanjang mata menuju horizon. 

Tak puas hanya sekali sampai punggung bukit, sebagian dari kami bergerak ke puncak gunung kecil itu untuk menikmati sudut keindaan yang lain. Dengan sedikit berjalan kaki menanjak, tak beriringan, sebelas dari kami menggapai puncak tertinggi itu, sebidang tanah datar. Luasnya seukuran lapangan bola, dengan tepi jurang.

Sekelompok dari kami, mengambil foto dengan mengenakan kain panjang tenun Sumba. Sebagian yang mana lain, bergantian berfoto di tempat dekat bendera merah putih yang tersebut menancap pada tiang bambu di area tepi utara puncak Tenau. Entah siapa yang memasang bendera itu. Yang pasti, warnanya mulai memudar lalu kainnya sedikit aus di tempat ujungnya.

Di sini, Heru Margianto menghadirkan Muhammad Nafi, anggota rombongan yang tersebut lain, dan juga saya untuk sejumlah melakukan pencarian ‘angle’ dan juga gaya menawan di pemotretan. Nafi, misalnya, minta ‘angle’ sunyi, mirip pengelana di film-film tentang sosok petualang yang mana sedang duduk, istirahat, sembari memandang sangat ke depan. “Bagus kan,” ujar warga Bintaro ini.

Bisa dibilang, di tempat setiap titik lokasi, pada berbagai sudut pandang, serta aneka gaya, kami coba jepret untuk mendapatkan gambar. Ternyata, jawaban yang muncul di area semua foto, yang dimaksud ada pada memori ponsel kami hanya saja satu: savana Bukit Tenau Pulau Sumba sungguh elok, terlalu sublim.

Setelah lega bergulat dengan alam, lalu matahari mulai hangat dalam tubuh, kami pun kembali ke Waingapu. Selanjutnya, kami makan pagi demi mengganjal perut yang dimaksud mulai lapar.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours