Penelitian Sebut Remaja Bisa Habiskan Sekitar Rp300 Ribu Tiap Mingguan Untuk Rokok: Faktor Harganya Terlalu Murah?

Estimated read time 3 min read

Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah total perokok yang mana cukup tinggi. Tidak hanya sekali perokok dewasa, tetapi juga perokok remaja atau anak. Berdasarkan statistik, dikabarkan bilangan perokok meningkat hingga 8,8 jt dari 2011-2021.

Dari penelitian yang diadakan dengan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), para remaja bahkan bisa saja menghabiskan uang sekitar Rp30 ribu sampai Rp200 ribu per minggu hanya sekali untuk rokok.

Pengamat ekonomi I Dewa Gede Karma Wisana, Ph.D. mengungkapkan, tingginya bilangan bulat perokok remaja ini terjadi dikarenakan ada beberapa faktor, mulai dari harga jual rokok yang tidak mahal serta mudah didapat.

Hal yang disebutkan memproduksi para remaja mudah untuk mendapat akses membeli rokok. Tidak hanya saja itu, remaja juga dapat membeli rokok secara eceran atau per batang, sehingga tak harus membeli satu bungkus sekaligus.

“Remaja itu membeli rokok akibat diskon serta mudah didapat di tempat warung. Beberapa juga membelinya satuan atau batangan sehingga gak harus sebungkus. Dari nyobain satu batang itu jadinya candu,” ucap Dewa di Diseminasi Penelitian lalu Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) DPRemaja 2.0 sama-sama CISDI, Selasa (12/12/2023).

Hal-hal itulah yang tersebut kemudian menyebabkan total perokok muda cukup tinggi. Apalagi, pendapatan yang diterima publik pada waktu ini juga semakin baik. Namun, di area sisi lain, kenaikan biaya rokok juga tak signifikan. Hal yang dimaksud tiada memberikan pengaruh untuk masyarakat.

“Semakin terjangkau, ya inilah tadi yang mana menjelaskan mengapa meskipun nilai tukar rokok terus naik tapi ternyata masih tetap saja terjangkau oleh warga tertentu, lantaran income (pendapatan) yang tersebut semakin membaik,” jelas Dewa.

Untuk itu, sebenarnya penting ada kebijakan, misalnya kenaikan nilai rokok yang dimaksud signifikan. Dari survei PRAKARSA pada 2018 sendiri, dikatakan kalau 12 persen perokok mau berhenti jikalau kenaikan harganya bisa saja mencapai 50 persen.

Sedangkan, 32 persen perokok juga mau berhenti jikalau kenaikan dapat mencapai 100 persen. Namun, nyatanya kenaikan nilai tukar rokok pada waktu ini masih dinilai rendah. Bahkan, kenaikan harga jual 10 persen belaka menghasilkan sekitar 0,11 – 0,17 persen perokok untuk berhenti.

“Dilakukan rekan-rekan kita pada PRAKARSA tahun 2018 menemukan bahwa sebanyak 12 dari responden perokok itu mereka berniat atau punya itikad baik untuk berhenti merokok apabila nilai rokok meningkat hingga 50 persen. Selain itu juga ditemukan bahwa 32% responden menyatakan mereka itu akan berhenti merokok apabila rokok meningkat harganya bahkan hingga 100 persen,” jelas Dewa.

Melihat hal tersebut, terdapat beberapa rekomendasi yang digunakan dapat dilaksanakan agar bisa saja mengempiskan jumlah total perokok remaja di area Indonesia. Beberapa hal yang disebutkan di area antaranya:

  • Meningkatkan cukai untuk rokok;
  • Adanya larangan untuk memasarkan rokok secara batangan;
  • Memberi sanksi tegas pada publik yang memasarkan komoditas tembakau pada anak di tempat bawah 18 tahun;
  • Adanya lisensi khusus untuk para penjual rokok;
  • Mengatasi adanya pemasaran rokok secara ilegal;
  • Terus memperkenalkan untuk tidak ada maupun berhenti merokok bagi masyarakat.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours