Bukan Ancaman Bagi Tenaga Kerja, Pemakaian Teknologi AI dalam Rumah Sakit Justru Banyak Diinginkan Nakes

Estimated read time 3 min read

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kerap dianggap ancaman bagi umat manusia. Sebab, kecanggihan teknologi dikhawatirkan akan masih menggeser beberapa jumlah pekerjaan yang semula dikerjakan oleh manusia jadi terganti oleh mesin.

Tetapi rupanya, ketersediaan Kecerdasan Buatan justru sangat dinantikan oleh para tenaga kebugaran (nakes) di area rumah sakit. Hal yang disebutkan bedasarkan temuan dari studi Future Health Index (FHI) Indonesia 2023 yang dimaksud dilaksanakan Royal Philips dalam 14 negara. Di Indonesia sendiri ada sebanyak 200 nakes yang menjadi koresponden.

Direktur Utama Philips Indonesia Astri Ramayanti mengungkapkan bahwa pemimpin kondisi tubuh dalam Indonesia sebenarnya semakin beralih terhadap kecerdasan buatan untuk meningkatkan pemberian perawatan serta efisiensi operasional. 

Ilustrasi Artificial Intelligence (Freepik/phonlamaistudio)
Ilustrasi Artificial Intelligence (Freepik/phonlamaistudio)

Saat ini, hampir sepertiga atau sebanyak 32 persen rumah sakit di dalam Indonesia telah berinvestasi di teknologi kecerdasan buatan. Sementara 76 persen lainnya berencana melakukan hal sama di tiga tahun mendatang. 

“Laporan ini menyoroti minat sama-sama di kecerdasan buatan di tempat antara kedua kelompok, baik pemimpin maupun profesional muda. Kedua kelompok memprioritaskan pengaplikasian kecerdasan buatan untuk memprediksi hasil pasien, membantu kebijakan klinis, juga mengoptimalkan efisiensi operasional,” kata Astri pada koferensi pers di dalam Jakarta, Rabu (13/12/2023).

Dari survei yang disebutkan juga ditemukan kalau  para pemimpin kondisi tubuh beranggapan kalau pemakaian Kecerdasan Buatan justru berguna untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang dimaksud masih terjadi di tempat Indonesia, teristimewa pada tempat pedesaan. Sebanyak 77 persen responden terlibat menyatakan telah terjadi menggunakan atau berencana manfaatkan kondisi tubuh digital.
 
Para nakes usia muda, di area bawa 40 tahun, juga punya ketertarikan lebih lanjut tinggi untuk bekerja di tempat rumah sakit yang telah lama melakukan adaptasi teknologi tambahan canggih. Satu pertiga dari nakes muda itu memberikan prioritas akses terhadap pemanfaatan Kecerdasan Buatan pada perawatan kebugaran serta pengiriman perawatan terhubung ketika memilih tempat kerja. 

Meski begitu, mereka itu juga masih merasa perlu adanya pelatihan lebih besar baik tentang teknologi baru lalu akses ke alat diagnostik canggih sebagai faktor kunci untuk meningkatkan perawatan pasien. 

Kemudahan perawatan dengan bantuan teknologi itu salah satunya dijalankan oleh rumah sakit pemerintah, RS Jantung juga Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta. Direktur Umum juga Informan Daya Individu RS Harapan Kita, dr. Basuni Radi, Sp.JP., menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi di tempat rumah sakit tidaklah hanya saja mempermudah kemudian mempercepat kerja nakes, tapi juga membantu pasien pada akses layanan.

“Kalau di dalam RS Jantung Harapan Kita, kita lihat ada beberapa hal bisa jadi digunakan. Utamanya kalau dari kami bagaimana memberikan kenyaman, kemudahan untuk pasien. Contoh yang dimaksud bisa jadi diterapkan, mulai dari pasien daftar. Dulu harus datang langsung, bawa KTP, bawa orang sakitnya. Sekarang daftar mampu dari mana sekadar secara online,” tuturnya. 

Contoh lain lagi, misalnya terkait penyimpanan rekam medis yang tersebut bisa saja dijalankan secara digital sehingga tiada perlu lagi disimpan di bentuk berbagai dokumen kertas. 

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours